Wednesday, March 17, 2010

7 Cara Menangkis Virus Ukhwah


Dalam surat Al-Hujurat, Allah swt memaparkan 7 sikap bagi kita untuk membasmi virus-virus ukhuwah yang bisa menghancurkan kekuatan ukhuwah yang telah dibina.
1. Tabayyun yang bererti mencari penjelasan dalam setiap maklumat yang diterima dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita [...]
Dalam surat Al-Hujurat, Allah swt memaparkan 7 sikap bagi kita untuk membasmi virus-virus ukhuwah yang bisa menghancurkan kekuatan ukhuwah yang telah dibina.
1. Tabayyun yang bererti mencari penjelasan dalam setiap maklumat yang diterima dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49:6)
2. ‘Adamus Sukhriyyah, ertinya tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain. Firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan).” (QS 49:11). Mampukah kita untuk meninggalkan tradisi sukhriyyah dan perasaan ana khairun minhu (saya lebih baik daripadanya), yaitu perasaan ’sombong’ seperti yang dimiliki iblis? Inilah persoalan yang perlu ditanya pada diri.
3. Tidak mencela orang lain. Ini ditegaskan dengan firman-Nya: ‘Dan janganlah kamu mencela diri sendiri’. Mencela sesama muslim, oleh ayat ini dianggap mencela diri sendiri, sebab pada hakikatnya kaum muslimin dianggap satu kesatuan. Apalagi jika celaan itu berkait dengan kedudukan dan kebendaan di dunia. Allah sendiri menyuruh Rasul dan orang-orang yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin. (Lihat QS, 18:28)
4. Meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim. Ini berdasarkan firman Allah swt: “Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang buruk).” (QS 49:11) Tanabuz dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Pada kenyataannya masih saja ada orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menyebut kafir kepada orang yang tidak tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.
5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan di mana Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS 49:12) Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut.
6. Tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain. Perbuatan ini amat dicela Islam. Allah swt amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri. Firman Allah swt: “Dan janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain.” (QS 49:12)
7. Allah swt menegaskan: “Dan janganlah kamu sekalian menggunjing sebagian lain.Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?…” Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi bererti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.
Wallaahu’alam

Tuesday, March 16, 2010

LEVEL OF LOVE BASED FROM AL-QURAN

Menurut hadis Nabi: Orang yang sedang jatuh cinta, cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu).
Sabda Nabi: Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).
Sabda Nabi juga: ciri dari cinta sejati ada tiga -
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih [...]
3310220248 a9467858db LEVEL OF LOVE BASED FROM AL QURAN

Menurut hadis Nabi: 
Orang yang sedang jatuh cinta, cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu).
Sabda Nabi: Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).
Sabda Nabi juga: ciri dari cinta sejati ada tiga -
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemahuan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain/diri sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
akhlak LEVEL OF LOVE BASED FROM AL QURAN
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin(Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduanini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika,
aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).
8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Memandangkan persoalan cinta ini adalah persoalan yang begitu menarik untuk diperbahaskan dan diperkatakan di kalangan remaja Islam pada hari ini, maka iLuvislam juga ingin mengambil peluang ini untuk membicarakan soal cinta dan kasih sayang secara lebih panjang lebar. Walaupun artikel ini membicarakan persoalan cinta, ini bukanlah bermakna kami menggalakkan golongan remaja Islam di luar sana untuk terus. Pihak kami cuma berharap dengan tersiarnya artikel ini, ia akan memberikan kefahaman yang lebih jelas mengenai hakikat cinta agar remaja yang sedang hangat bercinta tidak mudah hanyut dengan arus pancaroba dunia.

PENGERTIAN CINTA

Apa yang kita fahami tentang erti cinta? Jika kita tanyakan persoalan ini kepada para remaja yang sedang hangat bercinta, pelbagai jawapan yang akan diperolehi. Di antara jawapan itu mungkin ada yang berkata: Cinta adalah kasih sayang, cinta adalah buta, cinta adalah rindu-rinduan, cinta adalah tempat meluahkan perasaan dan pelbagai jawapan lagi. Ini hanyalah jawapan pada tanggapan mereka sahaja bahawa cinta bermaksud sedemikian. Betulkah maksud cinta seperti yang para remaja itu fahami?

Menurut En. Pahrol Mohd Juoi, cinta mempunyai beberapa erti yang praktikal di antaranya cinta itu beerti tanggungjawab, perbutan / tindakan, memberi dan lain-lain lagi. Jika kita menyatakan perasaan dan ungkapan cinta kepada seseorang, ini bermakna kita akan bertanggungjawab sepenuhnya ke atas orang yang kita tujukan ungkapan tersebut. Kita akan bertanggungjawab terhadap segala masalahnya yang dihadapinya termasuklah kewangan, pendidikan, kesihatan dan sebaginya lagi. Sebagai merialisasikan cinta itu, kita juga perlu bertindak melakukan sesuatu untuk menyelesaikan segala masalah yang dihadapinya tanpa kenal penat dan jemu. Kita sanggup memberikan segala tenaga, masa dan wang ringgit untuk orang yang kita cintai itu dengan bersungguh-sungguh.

Disebabkan itulah para suami / bapa sanggup melakukan apa sahaja untuk membantu dan menyelesaikan masalah isteri dan anak-anaknya kerana suami / bapa itu mencintai dan menyayangi mereka sepenuh hatinya. Dia sanggup melakukan apa sahaja untuk membahagiakan orang yang dia cintai dan sayangi. Begitulah hebatnya cinta yang ditunjukkan oleh suami / bapa sebagai memenuhi amanah daripada Allah Taala kepadanya.

FITRAH MANUSIA KEPADA CINTA DAN BERPASANGAN


Firman Allah Taala bermaksud:
Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan lelaki dan perempuan.
(Surah an-Najm: Ayat45).

Perasaan untuk berpasangan dan bercinta adalah fitrah yang telah dicampakkan oleh Allah Taala kepada hamba-hambaNya. Ini bermakna fitrah untuk dicinta dan mencintai adalah sesuatu yang suci lagi bersih.

Menurut En. Pahrol Mohd Juoi, jiwa manusia ini sememangnya memerlukan cinta kerana cinta diibaratkan seperti makanan kepada jasad. Jasad memerlukan makanan untuk memberikan kekuatan. Kekuatan inilah yang akan menggerakkan tubuh badan untuk menunaikan segala tugas dan tanggungjawab. Begitu jugalah diibaratkan keperluan cinta ke atas diri setiap manusia. Masing-masing memerlukan di antara satu sama lain.

Memandangkan cinta adalah suci lagi murni, janganlah kita kotorkan ia dengan perkara-perkara yang boleh merosakkan kesucian cinta itu. Perbuatan ini akan membuatkan Allah Taala murka kepada kita. Segala batasan syarak mestilah dipatuhi agar fitrah yang suci itu tidak bertukar menjadi fitnah!


UNDANG-UNDANG CINTA


En. Pahrol Mohd Joui telah menggariskan beberapa peraturan dan batasan-batasan untuk bercinta. Di antaranya ialah:
01. Hendaklah cinta kita itu didasari kepada cintakan Allah Taala.

Ertinya, cinta yang kita berikan kepadanya semata-mata kerana mengharapkan keredhaan Allah Taala. Allah Taala yang memberikan fitrah itu kepada kita, maka gunakanlah fitrah itu untuk menghampirkan diri kepadaNya.

02. Pastikan semasa menjalinkan hubungan cinta itu tiada hukum Allah Taala yang dilanggar.


Di antaranya ialah tidak ada pergaulan bebas, tidak berdua-duaan di tempat yang sunyi, tidak mendedahkan aurat, tidak mengabaikan asas-asas agama seperti solat dan lain-lain lagi.

03. Jangan mencintai seseorang lebih dari mencintai Allah Taala.


Maksudnya, janganlah kita mencintai seseorang itu lebih hebat daripada kita mencintai Allah Taala. Cintailah seseorang itu seadanya sahaja dan cintailah Pencipta cinta itu lebih dari segalanya.

PERKAHWINAN SEMASA BELAJAR

Ramai di kalangan kawan-kawan saya di Universiti Al-Azhar, Mesir dahulu telah mendirikan rumahtangga / berkahwin bersama pasangan masing-masing semasa belajar. Keadaan ini sudah menjadi adat bagi kami di sana.

"Ustaz, tak teringin untuk mendirikan rumahtangga semasa masih belajar ke?" tanya beberapa orang ahli iLuvislam kepada saya melalui YM. Mungkin mereka mengetahui kebanyakkan pelajar Malaysia di Universiti Al-Azhar berkahwin semasa belajar. Di sebabkan itulah mereka bertanyakan soalan seperti itu kepada saya.

Saya hanya tersenyum lantas menjawab ringkas, "tak sampai seru lagi".

Walaupun ada pihak yang begitu bersetuju dengan perkahwinan ketika belajar, namun bagi pendapat saya pula, buat waktu itu, cita-cita saya untuk menuntut ilmu lebih diutamakan berbanding perkahwinan. Selain itu juga, nafsu serta gelora syahwat masih boleh dibendung dan dikawal walaupun kebanyakan perempuan Mesir agak "hot" cara pemakaian mereka. Jadi, adalah lebih baik saya menggunakan waktu itu dengan sebaiknya memandangkan saya masih lagi tidak mempunyai apa-apa tanggungjawab terhadap keluarga secara khusus. Maka waktu itulah masa yang terbaik untuk saya menuntut ilmu sebanyak mungkin di Bumi Anbiyak itu.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Rebutlah lima keadaan sebelum datang lima keadaan yang lain, iaitu keadaan mudamu sebelum tuamu, keadaan sihatmu sebelum kedatangan sakitmu, keadaan kaya sebelum fakirmu, keadaan lapangmu sebelum waktu sibukmu dan masa hidupmu sebelum tibanya kematianmu.
(Riwayat Hakim dan Baihaqi).

Selain itu, ada juga yang meminta sedikit nasihat dan pandangan saya mengenai perkara ini, "apakah pendapat ustaz mengenai perkahwinan awal sewaktu masih belajar?"

Saya menjawab, "ia bergantung kepada keadaan seseorang itu"

Saya menambah lagi "jika awak merasakan diri sudah wajib untuk berkahwin dan tiada pula halangan daripada keluarga, berkahwinlah"

Maksud saya ini ialah, jika kita merasakan diri sudah cukup bersedia dan amat dikuatiri diri akan terjatuh ke dalam lembah penzinaan (nafsu meronta-ronta) sekiranya tidak berkahwin, maka pada waktu itu wajiblah ke atasnya berkahwin. Selain itu, ibu bapa juga haruslah dibawa berbincang mengenai perkara ini. Mungkin sesetengah ibu bapa tidak bersetuju dan mungkin ada juga sesetengah ibu bapa bersetuju. Ia haruslah diuruskan dengan sebaiknya agar kedua-dua belah pihak tidak bermasam muka.

Teringan saya kata-kata En. Pahrol Mohd Juoi, "cinta akan datang jika cita-cita diutamakan, namun jika cinta diutamakan belum tentu cita-cita akan datang."

PERIGI MENCARI TIMBA

Perigi mencari timba atau perempuan mencari lelaki sebagai calon suamainya bukanlah sesuatu yang asing di dalam Islam. Di antara contoh yang boleh dijadikan rujukan perempuan Islam pada hari ini adalah kisah Saidatina Siti Khadijah meminang Rasulullah S.A.W. Ini menunjukkan bahawa harus di sisi agama bahkan digalakkan jika seseorang perempuan itu meminang seorang lelaki yang soleh.

Walaubagaimanapun, adat kita di Malaysia memandang perkara ini sebagai sesuatu yang janggal dan memalukan. Seseorang perempuan itu akan dikatakan gatal jika mereka yang memulakan dahulu perhubungan dengan seseorang lelaki. Sedangkan mendapatkan seorang lelaki / suami yang soleh adalah di antara perkara utama yang dituntut oleh agama.

Persepsi ini perlu diubah secara perlahan-lahan dan beransur-ansur. Selain itu juga, perlulah diingatkan kepada mana-mana perempuan yang ingin memulakan dahulu peminangan ini agar sentiasa menjaga adab-adab dan sopan-santun yang telah di ajar oleh Islam. Jagalah percakapan dan perbuatan agar pihak lelaki tidak salah faham tujuan kita memulakan dahulu perhubungan itu.

PENUTUP

Tujuan artikel ini ditulis bukanlah untuk mengajak para remaja yang tidak bercinta untuk bercinta dan mencari pasangan. Namun utama artikel ini disediakan adalah untuk memberitahu dan mengingatkan para remaja yang sedang hangat bercinta sekarang ini agar sentiasa berjaga-jaga dengan fitnah dunia. Kerana cinta, para remaja sanggup melakukan apa sahaja walaupun perkara itu bersalahan dengan syarak.

Ungkapan hukamak ada mengatakan: Cinta kepada harta ertinya bakhil, cinta kepada perempuan ertinya alam, cinta kepada diri ertinya bijaksana, cinta kepada mati ertinya hidup dan 
cinta kepada Allah Taala ertinya takwa

WANITA.........


WANITA : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
LELAKI   : Kamu!!!
WANITA : Menurut kamu, saya ini siapa?
LELAKI   : (Berfikir sejenak, lalu menatap WANITA dengan pasti).
Kamu, tulang rusukku!
Kerana Allah melihat bahawa Adam kesepian. Saat Adam sedang lena  tidur, Allah mengambil rusuk Adam dan menciptakan Hawa. Semua LELAKI mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan  wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hatinya...
Setelah berkahwin, pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis untuk sementara. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kelelahan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan.
Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian
dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu
mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari pada akhir sebuah
pertengkaran WANITA lari keluar rumah.
Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak "Kamu tidak cintakan saya
lagi!!!". LELAKI sangat membenci ketidakdewasaan WANITA dan secara
spontan juga berteriak "Saya menyesali perkahwinan ini! Kamu ternyata
bukan tulang rusukku!!!"
Tiba-tiba WANITA terdiam, dan berdiri kaku untuk beberapa saat. LELAKI
menyesali akan apa yang sudah dia lafazkan, tetapi seperti air yang
telah tertumpah tidak mungkin untuk diceduk kembali. Dengan berlinang
air mata, WANITA kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya,
bertekad untuk berpisah.
"Kalau saya bukan tulang rusukmu, biarkan saya pergi. Biarkan kita
berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing" .
Lima tahun berlalu. LELAKI masih belum lagi berkahwin, tetapi berusaha
mencari khabar akan kehidupan WANITA. WANITA pernah ke luar negeri
tetapi sudah kembali. Dia pernah berkahwin dengan seorang asing dan
bercerai. LELAKI agak kecewa bila mengetahui WANITA tidak menunggu,
sepertinya.
Dan di tengah malam yang sunyi, dia meminum kopinya dan merasakan
sakit di hatinya. Tetapi LELAKI tidak sanggup mengakui bahawa dia
merindukan WANITA.
Suatu hari, mereka akhirnya bertemu kembali. Di airport, tempat di
mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya
oleh sebuah dinding pembatas.
LELAKI  : Apa khabar?
WANITA : Baik... kamu sudah menemui tulang rusukmu yang hilang?
LELAKI  : Belum.
WANITA : Saya akan terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Saya akan kembali 2 minggu lagi. Telefon saya kalau kamu berkesempatan.
Kamu tahu nombor telepon saya kan ? Tidak ada yang berubah.
WANITA tersenyum manis, berlalu di hujung lafaz "Selamat tinggal..."
Satu minggu kemudian, LELAKI menerima khabar WANITA adalah salah
seorang korban Menara WTC. Malam itu, sekali lagi, LELAKI meneguk
kopinya dan kembali merasakan sakit dihatinya. Akhirnya dia sedar
bahwa sakit itu adalah kerana WANITA, tulang rusuknya sendiri yang
telah dengan bodohnya dia patahkan.
Kita menempiaskan 99% kemarahan walau kepada orang yang paling kita
cintai. Dan akibatnya adalah penyesalan. Seringkali penyesalan itu
datang di kemudiannya, akibatnya setelah kita menyedari kesalahan
kita, semua sudah terlambat... .
Kerana itu, jagalah dan sayangilah orang yang dicintai dengan sepenuh
hati... Sebelum mengucapkan sesuatu berfikirlah dahulu, apakah kata
kata yang kamu ucapkan akan menyakiti orang yang dicintai? Kira
merasakan akan menyakitinya, sebaiknya jangan pernah dilafazkan.
Kerana semakin besar risiko untuk kehilangan orang yang dicintai.
Jadi berfikirlah, apakah kata-kata yang akan dilafazkan sebanding dengan akibat yang akan diterima??


makan kat RFC alor star bersama sahabat seperjuangan... time pas je habis simposium kat kolej universiti insaniah....huhu.. bestnye...

SIMPOSIUM ISLAM ZON UTARA


SIMPOSIUM MAHASISWA ISLAM PERINGKAT ZON UTARA.......
Yang membincangkan tentang perlunya kahasiswa Islam bergerak aktif sama ada di dalam kampus mahu pun di luar kampus bagi memimpin masyarakat..

renung-renungkan la wahai sahabatku..

Kenapakah begitu susah untuk aku mengubah diri ini agar menjadi insan berguna pada mata Ilahi?


Kenapa begiru sukar diri ini untuk menerima segala kebenaran yang diajarkan padaku?

Begitu hitamkah hati ku ini?

Begitu menggunungkah dosa diri ini?

Layakkah aku untuk meminta ampunanMu ya Allah?

Masih adakah ruang untuk hidayahMu bertapak dalam ruangan hati hitam ini ya Allah?



Kenapa begitu susah diri ini untuk mengalirkan air mata apabila disebut nama yang Maha Esa…?

Kenapa begitu berat air mata ini untuk mengalir mendengar nama Rasulullah s.a.w?

kenapa begitu jauh diri ini jika dibanding dengan para pejuang Islam yg lain?

Aku jua muslim yang sama-sama ingin melihat kebangkitan Islam….

Aku jua muslim yang bersama-sama melawan arus jahiliyah..

Tapi diri ini tetap ku rasakan masih sungguh jauh untuk menghampiri gerbang syurga-Mu ya Allah……

Tapi aku tidak sanggup dengan siksaan api neraka-Mu...



Ya Allah……

Hinanya diri ku ini ya Allah…

Kotornya diri ku ini ya Allah…

Jijiknya diri ku ini ya Allah…

Berilah hidayah padaku ya Allah…

Janganlah Kau tinggalkan aku walau sesaat…

Pimpinlah aku dalam setiap detik perbuatanku…

Aku tidak sanggup jika Kau berpaling dari memandang diri ini…

Tidak sanggup ya Allah….

Segala-galanya aku berserah pada Mu…

Aku tidak apat membayangkan diriku tanpa pimpinan-Mu ya Allah…

Aku tidak sanggup menjadi sehina-hina manusia pada pandangan-Mu…

Astaghfirullahalazim…

Ampunilah aku dalam setiap kejahilan dan kelekaanku….

Hanya pada Engkau aku bergantung dan mengharap segala-galanya….
Air mata membasahi pipi….
Adakah ini air mata keinsafan???
Ini adalah air mata kehinaan yang melanda diri ini…
Diri ini sedih dengan apa yg telah hambaMu ini lakukan….
Aku ingin meminta sesuatu dari Mu..
Tapi aku sungguh malu padaMu ya Allah..
Aku teringat perjuangan Hassan Al-Banna..
Aku sangat mengagumi perjuangan beliau…
Aku mengagumi perjuangan Syed Qutub…

Tapi ya Allah…aku malu ya Allah untuk menyatakannya…
Masih layakkah diri ini menyebut nama Hassan Al-Banna? Nama syed Qutub?
Masih tersisakah pejuang sepertinya untuk diri ini….
Malunya aku ya Allah dengan permintaan ini...
Aku tidak layak memikirkan tentangnya..
Wanita seperti manakah yang Kau pilihkan untuk mereka…?
Wanita yang bagaimanakah yang telah Kau pilih untuk melahirkan mereka?
Semestinya seperti Zainab Al-Ghazali dan mereka yang seangkatan dengan beliau…
Aku ingin sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka.
Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah.
Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita.
Aku ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid seperti Hassan Al-Banna.
Masih tersisakah mujahid seperti Al-Banna untukku ya Allah…?
Layakkah diri ini untuk menjadi peniup semangatnya?
Aku sungguh malu menyatakannya ya Allah…
Sungguh hina diri ini…sungguh kotor diri ini…
Sungguh lemah diri ini untuk mujahid seperti mereka…

Air mata ini jika dialirkan hingga titisan terakhir,
namun ia masih tidak mencukupi untuk menyatakan rasa bersalah dengan dosa-dosa diri ini yang menggunung tinggi...

Ya Allah…..
Pimpinlah daku…
Janganlah Kau tinggalkan aku walau sesaat cuma
Aku tidak sanggup dibiarkan dlm lumpur dosa2 hina….
Ampunilah aku ya Allah….
Astaghfirullahalazim…
Astaghfirullahalazim…
Astaghfirullahalazim…

MUHASABAH DIRI

Muhasabah adalah perilaku bagi mengitung dan memperelokkan diri yang terbentuk di dalam jiwa seseorang manusia itu menurut kaca mata agama. Ia juga boleh dimaksudkan sebagai mendidik diri agar sentiasa mencela segala kejahatan yang pernah dilakukan yang boleh menjadi pengalang untuk mandapat keredhaan dari Allah Taala.
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Orang yang pintar ialah orang yang menghitung dirinya serta beramal untuk hari selepas kematian sementara orang yang lemah ialah orang yang menikut hawa nafsunya serta beragan-angan terhadap Allah dengan angan-angan (yang banyak). (Riwayat al-Tarmizi).

Sesiapa yang bermuhasabah dirinya maka dia tidak akan meninggalkan ruang dan masa untuk dirinya melakukan perkara-perkara yang batil. Menyibukkan diri dengan ketaatan akan menghapuskan masa untuk membuat kejahatan. Dia akan mencela jiwanya di atas setiap kesalahan dan kekurangan yang yang dia lakukannya terhadap Allah Taala kerana takutnya diri ini kepada kekuasaanNya. Jika inilah keadaannya maka mana mungkin boleh didapati jalan dan ruang untuk membuat kesalahan dan kebatilan?

Berkata as-Sayyid Ahmad ar-Rifaie:
Daripada takut akan timbulnya muhasabah. Daripada muhasabah timbulnya muraqabah. Daripada muraqabah hati akan sentiasa sibuk bersama Allah Taala. (Kitab: al-Burhan al-Muayyad).

Secara tegasnya muhasabah pasti akan menghasilkan perasaan bertanggungjawab terhadap Allah Taala dan rasulNya serta makhluk-makhlukNya. Melalui muhasabah juga manusia merasa diri mereka tidak diciptakan oleh Allah Taala dengan sia-sia. Setiap manusia pasti akan kembali semula kepada Allah Taala apabila telah sampai waktunya.

Firman Allah Taala bermaksud:
Setiap yang berjiwa (yang bernyawa) akan merasai mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sahajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga ia telah beruntung. Kehidupan dunai itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Surah ali-Imran: Ayat 185).

Di dalam kesibukkan kita mengejar kekayaan dunia ini maka janganlah lupa juga untuk kita menyibukkan diri dengan mengingati Allah Taala. Perkara seperti inilah yang selalu dituntut oleh agama Islam.

Firman Allah Taala bermaksud:
Maka segeralah kembali kepada Allah maka sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata daripada Allah untukmu. (Surah adz-Dzaariyaat: Ayat 50).

Firman Allah Taala bermaksud:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang yang benar. (Surah at-Taubah: Ayat 119).

Adapun golongan sufi sentiasa menyibukkan diri dengan penghambaan dan pengabdian diri kepada Allah Taala. Mereka beriman di dalam perjalanan musafir ini menuju Allah Taala dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas. Hati mereka sentiasa mengingati bahawa mereka akan kembali kepada Allah Taala pada setiap masa.
Firman Allah Taala bermaksud:
Di tempat yang disenangi (penuh kebahagiaan) di sisi tuhan (Allah Taala) Maha Kuasa. (surah al-Qamar: Ayat 55).

Berkata Syeikh Ahmad Zarruq:

Lalai dari bermuhasabah diri menyebabkan apa yang dilakukan menjadi silap. Kurang berbincang dengannya boleh membawa kepada adanya sifat redha nafsu atau rasa berpuas hati terhadapnya. Memerangi nafsu boleh menjauhkan daripada melekat pada diri dan tidak bersikap tegas terhadapnya menyebabkan dia menjadi pahlawan. Oleh itu lazimilah diri dengan sentiasa bermuhasabah dan berbincang serta beramallah dengan apa yang sahih tanpa bertolak-ansur terhadap perkara yang telah nyata salah. Ketika beramal jangan mencari sesuatu yang tidak jelas. (Kitab: Qawaid al-Tasawuf).

Demikianlah pentingnya muhasabah di dalam diri setiap individu. Tanpa muhasabah yang ikhlas maka seseorang itu akan sentiasa berasa diri tidak pernah melakukan kesalahan. Bermuhasabahlah diri dengan hati yang terbuka agar kita boleh memperbaiki kebatilan dan kelamahan diri sebelum diri kita menemui ajal.
Berkata Saidina Umar al-Khattab:

Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Timbanglah amalan kamu sebelum kamu ditimbang. (Kitab: Tahzib Madarij al-Salikin).